Pages

Jumat, 10 Juni 2011

Malaysia Takut Mengklaim Wayang

Malaysia tidak akan berani mengklaim wayang Indonesia sebagai kekayaan budayanya. Ada 60 jenis wayang Indonesia yang tak mungkin bisa diaku-aku sebagai milik Malaysia karena peranti pertunjukannya kompleks, dan ceritanya mempunyai kedalaman filosofis.

Hal itu dikatakan Tupuk Sutrisno, Sekretaris Jenderal ASEAN Pupperty Association (APA), asosiasi wayang negara-negara ASEAN, Senin (31/8). Ia juga Sekretaris Jenderal Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senowangi).

"Jika nanti Malaysia berani mengaku bahwa wayang adalah keseniannya, Malaysia akan malu sendiri. Malaysia juga pasti dipermalukan dunia internasional karena tak bakal bisa menunjukkan bukti. Dunia tahu wayang Indonesia terhebat," ujar Tupuk.

Wayang Indonesia tak bisa diaku Malaysia karena banyak faktor. Dari sisi pergelaran, misalnya, wayang Indonesia melibatkan banyak aspek. Misalnya wayang kulit, melibatkan seni tatah dan sungging, gamelan, pesinden, dan dalang. Selain itu, juga ada nilai filosofis yang terkandung dalam cerita wayang.

Nilai filosofis itulah yang menjadikan wayang-wayang milik Indonesia mendapat penghargaan dari UNESCO—organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani budaya dan pendidikan—sebagai masterpiece kebudayaan tak berwujud benda.

"Saya pernah menyaksikan wayang Malaysia. Wayangnya bergambar manusia dan hanya menceritakan aktivitas keseharian, dan kadang ada leluconnya. Jauh lebih hebat wayang Indonesia, yang kaya dalam detail pergelaran, maupun maknanya," kata dia.

Tupuk lantas menceritakan sebuah tayangan iklan pariwisata dari Malaysia yang sekilas menampilkan tokoh Werkudoro. "Ya hanya sekilas dan sepotong seperti itulah yang bisa dilakukan Malaysia untuk coba mencomot seni kita," lanjut Tupuk.

Walau Malaysia belum bersuara mengklaim wayang, Tupuk mengingatkan agar pemerintah waspada dan melakukan langkah preventif. Ada baiknya, seni-budaya Indonesia mempererat diri dengan membentuk paguyuban. Wayang-wayang Indonesia sudah merintis benteng pertahanan, yakni secara internal masuk ke Senowangi, yang berdiri sejak tahun 1975.

Indonesia juga tergabung dengan APA yang terbentuk pada tahun 2006. Sekretariat APA berada di Jakarta, yang artinya ASEAN mengakui eksistensi wayang Indonesia. "APA yang beranggotakan 10 negara dan sudah dua kali menggelar pertemuan ini juga berencana masuk ke organisasi wayang dunia," kata Tupuk.

Dalam Sidang II APA di Yogyakarta, Desember 2008, tiga negara (Jepang, India, dan China) yang menjadi peninjau mendukung langkah APA. Dukungan itu dicatatkan dalam nota kesepahaman (MoU) bersama APA. Ketiganya siap mendukung pelestarian dan pengembangan kesenian boneka dan wayang ASEAN. Jika ada festival budaya, misalnya, mereka akan mengundang.

Anggota APA menyadari, sebelum menembus luar ASEAN, konsolidasi internal harus kuat dulu. Empat kesepakatan pun tercipta di pertemuan itu. Pertama, tiap negara harus memiliki sanggar boneka/wayang. Kedua, memperbanyak pertukaran pentas. Selanjutnya, menyusun buku wayang untuk diluncurkan tahun 2010. Kesepakatan keempat, menentukan tuan rumah Sidang APA tahun 2009 dan 2010 adalah Filipina dan Malaysia.

Indonesia, seperti disampaikan Tupuk, harus berkaca dulu dari negara tetangga. Thailand, misalnya, sudah bisa mengenalkan keseniannya sebagai paket wisata yang wajib didatangi wisatawan. Namun, Indonesia belum bisa.


SUMBER

0 komentar:

Posting Komentar